Perang Agama atau Bukan?

Posted: 16 January 2009 in Islam, Palestina

Di suatu sore yang telah berlalu, saya diajak berdiskusi oleh salah satu teman saya. Kami berdiskusi panjang lebar masalah agresi israel ini. Banyak sekali pertanyaan dan pola pikir yang menarik yang sebenarnya saya ingin bagi dengan teman-teman semua. Tapi, saya akan mulai dengan yang ini saja. Apakah ini perang agama atau bukan? Bukankah ini suatu perang kemanusiaan? Bukan perang agama (?).

Kalau saya ditanya apakah ini perang agama atau bukan? Maka saya jawab ya. Eit.. tapi jangan pendek berfikir dulu. Kalau ditanya ini masalah kemanusiaan atau bukan, maka saya akan menjawab ya juga, ini masalah kemanusiaan. Karena jelas-jelas agresi yang dilakukan israel sudah menghinadinakan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Ternyata, ada orang-orang yang tidak setuju atau bahkan miris kalau ini dikatakan perang agama. Apa pola pikir mereka? [kalo untuk yang ini, lebih baik kalian tanya saja langsung sama orang yang berpikiran demikian ya… aku gak tau.. dan gak ambil pusing untuk pertanyaan yang satu ini].

Ada juga jawaban yang sangat menarik dari pertanyaan apakah ini perang agama atau bukan? Ini jawaban dari teman saya sebenarnya. Katanya, “Ini perang 2 negara agama”. Ya, negara yang masing-masing berlandaskan atas suatu agama. Israel di Yahudi, dan Palestina di Islam.

Oh ya.. di awal aku seanggapan bahwa ini pun masuk ke perang agama. Kenapa? Karena bagi saya, seorang muslim. Di saat saudara lain seakidah ditindas dan bahkan diperangi, maka wajib bagi kita menolong mereka (tentunya dengan kadar yang baik). Ini sudah FINAL bagi saya. Bila ada seorang muslim dia membela saudaranya di sana tidak karena akidahnya.. maka menurut saya ini sangat disayangkan sekali. Bagi saya, seorang Dokter yang muslim di saat menolong ke Palestina dengan tujuan Jihad, lalu dia tewas [diserang] di saat menolong korban, maka insya4WI title syahid akan didapatkannya. Tapi bila motivasinya hanya dari sisi kemanusiaan saja, maka itu sangat disayangkan.

Itu pendapat saya. Sebenarnya ingin dijelaskan lebih panjang lagi. Hanya saja sayang, waktunya sudah semakin sore. Saya harus pergi dulu. Insya4WI nanti diteruskan lagi [mungkin juga diteruskan lewat post yang lain, he he he]. Kalau ada yang berbeda pendapat silakan saja. Saya pribadi sih gak terlalu mengambil pusing apalagi berlama-lama memperdebatkan pertanyaan ini. Yang penting adalah aktualisasi dari itu semua. Yaitu bantuan konkret [termasuk berdo’a tentunya]

Comments
  1. yumcatz says:

    nanti minggu ada diskusi di salman, feb
    yang jadi pembicar kepala bulan sabit apa gitu yang kek palang merah.
    diskusi tentang gimana keadaan di palestina (rafah) pas dia kesana.

  2. fidel says:

    sy sangat tidak setuju dgn anda….

    perang di israel terjadi karena keras kepala msg pihak baik itu israel maupun hamas……sebelum melihat suatu masalah jangan hanya melihat dari satu sudut pandang. itu namanya tidak dewasa skali…..

    lagian kita hidup di dunia bkn untuk beragama tapi.UNTUK BERIMAN…..

    ini sebuah kesalahpahaman dalam hidup…klo memang anda beriman, tunjukkan bahwa masing2 kalian selalu menunjukkan sikap kasih dan selalu berdamai dgn semua org terhadap sesama……semoga anda berubah

  3. Febi says:

    @fidel:
    Tanggapan Anda menarik sekali. Betul sekali bahwa hidup di sini tdk cukup sampai beragama, dalam artian punya agama saja tapi tidak beriman dan tidak mendalaminya. Mungkin bahasa lainnya kalo dalam Islam, -sering dengar- adalah Islam KTP (?). Melainkan juga harus memiliki keimanan yang dalam terhadap agamanya itu.

    Untuk paragraf kedua Anda, saya punya pertanyaan yang semoga bisa Anda jawab. Keras kepala? Siapa? Apakah memang benar keduanya keras kepala? Apakah waktu dulu, di saat kita dijajah Belanda dan Jepang, lantas Belanda dan Pejuang (pahlawan) Indonesia kedua-duanya kita sebut keras kepala? Kalo memang dua-duanya keras kepala, kok saya gak pernah dengar itu di pelajaran sejarah kita ya..?? Gak pernah dengar KERAS KEPALA..

    Untuk paragraf keempat Anda, silakan baca Al-Qur’an surat Al-Baqarah. Baca terjemahannya saja menurut saya sudah cukup. Di surat itu Alloh SWT menggambarkan bagaimana tabiat Yahudi, dan bagaimana sikap kita seharusnya kepada mereka.

    Mohon maaf, saya tidak tahu agama Anda. Bila agama Anda bukan Islam, mungkin jawaban saya di paragraf 3 sulit Anda cerna dan setujui. Begini saja, mari kita renungkan lagi. Sebenarnya, siapa yang menyerang? Siapa yang diserang? Itu saja dulu. Lebih lanjut lagi, dalami watak Israel dan Palestina (HAMAS). Siapa yang selalu melanggar perjanjian-perjanjian yang ada? Masihkan Anda menyalahkan kedua-duanya? Saya harap TIDAK.

    [berbeda pendapat boleh kok… Iya kan??? Kalo Anda tidak puas dengan jawaban saya, berarti bagus. Anda dan saya bisa belajar lebih dalam lagi dan belajar dari semuanya… ^_^]

    @det:
    Wah mas… jawabannya gak pake alasan, jadi saya bingung mau
    bilang apa [yang lebih tepat, harusnya: jadi saya bingung mau ngetik apa. He he he]. Btw makasih ya suka mampir ke sini. Aku juga suka mampir ke sana kok mas. Blog Mas keren..

  4. ROY says:

    kalo aku sih gampang. Bagiku, orang yang beragama Islam dan meyakini betul agamaku, maka jangankan perang yang mempertaruhkan nyawa. Makan, bernapas, bahkan hal-hal kecil seperti menjumput sampah di jalan lalu diletakkan ke tempat sampah haruslah dilandasi dasar filosofis keagamaan. Kenapa? Ya, karena kita lahir, bernapas, berjalan, berbicara adalah karena kehendak Tuhan yang menyampaikan agamaNya melalu Rasul2Nya. Jadi, ya hidup kita untuk Tuhan.

    Kemanusiaan tak dapat dipisahkan dari KeTuhanan. Manusia ada karena ada Tuhan.Kemanusiaan ada karena ada Ketuhanan. Maka, sebenarnya perang agama dan perang kemanusiaan tak ada bedanya.Begitu agama dilanggar, kemanusiaan juga dilanggar.So, Hamas yang dianggap berjuang atas dasar agama sesungguhnya sedanga berjuang di atas kemanusiaan.

    Kepada saudara Fidel.sya akan berkomentar menambahkan: Andaikan ketika suatu saat ada seseorang yang kalap berada di depan anda dan mengancam anda dengan sebilah pisau yang ditempelkan ke leher anda. apa yang akan anda lakukan? Bagi saya, cinta kasih dan damai itu tak selalu berujud senyum dan uluran tangan. Ada saatnya ketika orang yang mengancam dengan pisau itu, kita pegang tangannya, kita pelintir dan kita jatuhkan pisaunya serta kita kuasai dirinya. Kalo perlu diikat. Untuk apa? bUkan untuk menzalimi dia.Tapi, untuk mempertahankan diri.Untuk menjaga agar tidak melukai orang lain.Untuk mengingatkan dia bahwa apa yang dia lakukan salah.ato, mungkin cara anda berbeda?mengajaknya musyawarah,minum teh, ngobrol sante.Mungkin berhasil bagi beberapa penjahat yang nuraninya masih “on”.Tapi, model2 yang kalap biasanya ndak berhasil.kadang kita perlu mengikatnya dulu baru kita ajak bicara.

  5. ROY says:

    Oh iya, nambahi.Untuk penjahat2 kalap, model yang saya contohkan dengan menawarkan minum teh, ngobrol sante jangan dicoba yah.Takutnya makin kalap.Dikira menghina ntar.Yah, dicoba ndak apa seh, cuman siap2 kalo dia semakin kalap dan belajarlah bela diri sejak dini.ha..ha..okay.Wis tau soale.

  6. Hanny says:

    IYala..perang itu urusan terakhir banget.setiap cara dan batasan-batasan perang dalam islam sudah sangat jelas,bahwa seseorang bila terjadi beda pendapat atau berselisih tidak serta merta perang,tapi di mulai atau diajak berdialog argumentasi yang fahr,berdamai itu lebih utama so..aplikasi alqur’an harus bijak begitu juga melihat orang2 yang bertikai,bermusuhan atau negara yang berperang..untuk sekarang lebih baik kita berperang akhlak saja,setiap pribadi berlomba2 berakhlak yang baik pada sesama manusia terutama menunaikan hak Allah SWT,.peace!;-)..”SETIAP MUSLIM BERSAUDARA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s