The Blog Is Not Dead (Yet)

Posted: 4 February 2012 in Uncategorized
Tags:

Assalamu’alaykum wr.wb. wahai para pembaca (kalau emang ada yang baca -__-‘). Lama sudah tidak pernah menyentuh blog ini. Tepat dua tahun (benar-benar tepat dua tahun) semenjak saya posting terakhir tentang telunjuk yang bersyahadat.

Sebenarnya banyak alasan kenapa saya “berhenti” menulis. Dan yang paling utama adalah karena saya takut apa yang saya tulis ini merupakan pengejawantahan dari sifat sombong. Dan itu berbahaya. Maksud saya begini. Pernahkah kalian membaca status salah seorang teman lalu dalam hati kalian berkata, “sombong banget nih orang, baru naik kapal terbang sekali aja dah heboh banget”, atau “duuh.. belaga banget sih nih orang baru namanya dipajang di koran aja kayak dah jadi bupati, pake di-mention segala linknya”, dan lain sebagainya. Berbahaya bukan(?)…

…Berbahaya(?) Berbahaya kalau ternyata memang hati kita itu nyombong, baik sengaja ataupun tidak. Nah, kalau sudah begitu dan keterusan maka itu lebih berbahaya dari kanker, dari HIV, atau bahkan dari digigit kucing [eeh.. teu nyambung, bawa-bawa kucing segala Seperti yang kalian tau, sombong itu bagian dari syirik kecil. Nah kalau yang kecil-kecil itu sudah jadi karakter kan berbuuuuaaahhaya bukan(?)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al Zumar: 65)

Syirik itu menghapus amal baik SEMUANYA, tidak berbekas. Boleh jadi sombong itulah menjadi titik awal yang paling baik untuk kemunculan syirik. Kembali ke cerita status yang disangka “sombong” tadi, saya tidak bicara bahwa orang-orang yang menulis status itu pasti sedang sombong. Saya berprasangka baik bahwa mereka tidak sedang nyombong. Tapi kalau maksudnya memang ingin dapat pujian orang, nah loh!!

Sudahlah, terkait dengan sombong dan pujian dari orang lain, saya pikir mari kita menulis saja lagi. Menulis apa yang ada di pikiran. Mengalir sajalah menulisnya, tidak harus bagus, yang penting menulis dulu. Tidak pentinglah pikir-pikir takut sombong, yang penting insyaAllah tidak ada maksud nyombong atau sejenisnya. Kalau nanti malah dapat pujian, ya.. itu “risiko” toh memang tidak berharap dipuji juga. Bahkan tidak ada yang komentar pun tidak apa-apa. Semoga menulis ke depannya bisa memberikan manfaat kepada saya dan kepada yang membaca.  Bismillah… dan mari… menulis (lagi).

Oh iya, satu lagi. Kalau nanti ada yang berpikiran saya sedang sombong atau belagu. Yaa.. mungkin itu bisa saja terjadi. Tapi yang penting bagaimana pandangan Allah sajalah.. Hehe..
(by the way, dari tadi ngomong sombong-sombong melulu, emang ada yang patut disombongin(?).. hehehe)

Comments
  1. rinda says:

    Menurutku, penilaian sombong atau tidaknya itu tergantung “niat” masing-masing dan niat itu akan dinilai oleh Allah.
    Jika niat untuk menulis benar-benar untuk ibadah (dakwah, berbagi informasi/ilmu, saling menasehati dalam kebenaran) kenapa tidak??
    Buanglah jauh-jauh pikiran atau perasaan tidak enak krn takut dikira sombong, berpikirlah dengan mind set tujuan menulis adalah untuk kemaslahatan ummat..insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s